Conversational

Conversational Commerce Era Baru E-Commerce

Conversational Commerce Adalah …

Anda pernah menggunakan aplikasi ojek online seperti Go-jek, Uber, Grab Bike dan lainnya ? Jika ya, maka Anda telah mempraktekan conversational commerce. Istilah ini diciptakan pada tahun 2015 oleh Chris Messina dari perusahaan Uber di sebuah artikel pada platform Medium.

Conversational commerce berarti konsumen dapat melakukan percakapan dengan customer service, meminta bantuan, mengajukan pertanyaan, mendapat rekomendasi pribadi hingga membaca ulasan. Semua hal itu dapat dilakukan secara mudah, hanya dengan mengklik satu tombol pada perangkat mobile yang terhubung dengan aplikasi chatting (percakapan).

Dengan conversational commerce, konsumen terlibat langsung dalam percakapan atau interaksi dengan customer service perusahaan, chat bot, maupun keduanya.

Contohnya, ketika Anda memesan ojek secara online, maka akan muncul nomor telepon pengemudi yang dapat dihubungi. Dengan demikian, Anda dapat mudah dengan mudah berkomunikasi dengan mereka misalnya untuk memberikan acuan lokasi penjemputan. Percakapan dalam transaksi inilah yang disebut dengan conversational commerce.

Pada sisi bisnis, perusahaan bisa menggunakan robot untuk mengotomatisasi pesan layanan pelanggan. Cara ini digunakan agar konsumen bisa melakukan transaksi tanpa meninggalkan aplikasi chatting yang mereka gunakan.

Pergeseran Pasar

Kini konsumen semakin mengandalkan aplikasi chatting dalam semua bentuk komunikasi, baik personal, bisnis maupun perdagangan. Bahkan, aplikasi tersebut juga digunakan oleh konsumen dalam menggunakan chat untuk mencari atau memilih produk dan jasa, dan untuk menyelesaikan proses pembayaran.

Penelitian yang dilakukan oleh firma Juniper mengatakan lebih dari 94 miliar pesan digital dikirim pada tahun 2015 melalui email. Namun, instant messaging telah melampaui jumlah tersebut pada pertengahan 2016.

Aplikasi chatting kini menjadi pilihan utama sarana komunikasi. Menurut eMarketer, sekitar 1,4 miliar konsumen menggunakan aplikasi chatting pada 2015, meningkat dari tahun 2014 sebanyak 31,6%. Jumlah ini diperkirakan akan mencapai 2 miliar pada tahun 2018.

Baca Juga  Pengertian E-Commerce

Apa Yang Dibutuhkan Konsumen

Perusahaan yang menjual aplikasi chatting saat ini bekerja sama dengan perusahaan lainnya untuk memudahkan konsumen dalam melakukan transaksi dengan mereka.

Misalnya Facebook Messenger yang bekerja sama dengan Uber agar konsumen bisa dengan mudah memesan layanan Uber tanpa perlu meninggalkan aplikasi chatting tersebut. Contoh lainnya adalah Amazon Echo yang bekerja sama dengan Capital One, sehingga memudahkan nasabah bank untuk menanyakan keperluan mereka, melakukan pembayaran, memeriksa transaksi dan lainnya hanya dengan menggunakan Echo.

 

Tidak hanya itu, dengan aplikasi chatting kini konsumen tak perlu bolak-balik membuka website dan aplikasi lain yang mereka gunakan untuk chatting. Anda dan konsumen lainnya juga bisa membaca ulasan dari pengguna sebelumnya untuk meyakinkan Anda sebelum melakukan transaksi.

Dengan semua hal di atas, berarti secara langsung banyak proses panjang yang telah terpotong secara otomatis. Sehingga hal ini memperpendek jarak antara prospek dan pembelian.

Sumber :

https://www.shopify.co.id/encyclopedia/conversational-commerce