Mobile Web vs Native App, Pilih Yang Mana?

Mobile Web vs Native App, Pilih Yang Mana?

Dewasa ini, pengguna semakin bergantung pada aplikasi (native apps) yang tersedia pada perangkat berbasis sistem operasi Android atau iOS. Menurut Flurry Analytics, sebuah agensi penganalisa mobile app, pada 2014, 86% dari populasi sebanyak 450.000 aplikasi mobile yang terinstal pada lebih dari 1.3 milyar perangkat di dunia ditemukan menghabiskan waktu menggunakan native apps, sedangkan hanya 14% dari populasi yang sama ditemukan masih menggunakan aplikasi berbasis web melalui mobile. Data ini, jika dibandingkan dengan data tahun 2013, menunjukkan pertambahan penggunaan native apps sebesar 6%, sedangkan penggunaan mobile web berkurang sebesar 6%.

Hal ini membuat kesan seolah-olah perambah (browser) yang tersedia pada masing-masing perangkat semakin tidak berguna dan sebaiknya ditinggalkan. Sikap ini sering terlihat dari siapapun yang ingin meng-online-kan bisnisnya lebih memprioritaskan penggunaan aplikasi berbasis Android atau iOS ketimbang website atau aplikasi web berbasis web.

Memang, aplikasi berbasis Android atau iOS menawarkan kemudahan akses kepada pengguna. Beberapa jenis aplikasi bisa dibuka dan digunakan kapanpun meski tidak terkoneksi dengan Internet. Hal ini terjadi lantaran ketika sistem operasi Android dan iOS serta aplikasi masing-masing sistem operasi tersebut dipasarkan, mobile web browser masih memiliki keterbatasan pada perangkat mobile , dan sebelum perangkat mobile muncul, pengembang website atau aplikasi web masih mendesain website yang sangat kaya fitur dengan asumsi bahwa pengguna hanya mengakses website melalui desktop yang didukung kecepatan bandwidth yang cepat. Akibatnya, website yang biasanya bisa diakses sangat baik melalui browser desktop tiba-tiba tampil buruk pada mobile web browser baik dari segi tampilan maupun kecepatan download.

Namun sebenarnya tidak selalu demikian. Seiring dengan berkembangnya sistem operasi Android dan iOS, teknologi mobile web browser untuk perangkat mobile pun juga berkembang, sehingga website atau aplikasi web yang sebelumnya tidak bisa diakses secara baik melalui perangkat mobile sekarang bisa diakses secara baik melalui sistem operasi terbaru Android dan iOS. HTML5, punggung teknologi terbaru HTML, mendobrak mitos bahwa mobile web browser tidak bisa digunakan untuk hal lain selain berselancar website berteknologi rendah.native-apps-vs-rwd-mobile

Baca Juga  Mengenal Jenis-Jenis Cloud Computing Berdasarkan Fungsinya

Malahan sebaliknya, perkembangan teknologi tersebut seharusnya dapat merubah persepsi terhadap penggunaan native apps dan mobile browser web app. Berikut adalah perbandingan antara keduanya:

Aplikasi web lebih cepat dan mudah diupdate ketimbang native apps

Jika Anda mengembangkan native apps, aplikasi tersebut biasanya didistribusikan (dijual) melalui Google Play untuk Android atau Apple Store untuk iOS. Agar aplikasi bisa didistribusikan, diperlukan proses penyetujuan, biaya pendaftaran, dan komisi penjualan. Aplikasi yang didaftarkan belum tentu diijinkan untuk didistribusikan, tergantung apakah konten aplikasi lulus sensor atau tidak. Tidak diketahui secara jelas seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk keseluruhan proses. Menurut pengakuan salah satu pengembang, dibutuhkan waktu lebih dari tiga minggu untuk mengdistribusikan aplikasinya melalui Apple Store. Selain itu, setiap kali pengembang membuat perubahan pada aplikasi, pengembang perlu mengulangi serangkaian proses yang sama. Karena proses pendaftarannya lama, pengembang wajib memastikan aplikasinya bebas dari kesalahan (tidak ada bug).

Berbeda dengan iOS yang hanya bisa diunduh melalui Apple App Store, aplikasi berbasis Android tidak perlu didistribusikan melalui Google App Store. File aplikasi bisa diinstal langsung pada perangkat mobile berbasis Android. Tentunya, pengguna harus secara teknis paham bagaimana melakukan instalasi demikian. File tersebut bisa didapatkan pengguna salah satunya melalui website dimana pengguna bisa mengunduh file tersebut. Tentunya, jika pengembang meng-update aplikasinya, pengguna juga harus repot meng-update aplikasi yang telah terinstal pada perangkatnya.

Sebaliknya, aplikasi berbasis web bisa didistribusikan kapanpun dan dimanapun selama pengguna aplikasi terkoneksi dengan Internet. Pengembang pun bisa lebih bebas dan sering merevisi atau meningkatkan aplikasinya tanpa dibebani proses dan persyaratan sebagaimana aplikasi didistribusikan melalui Google Play atau Apple App Store. Bagi pengguna sendiri, fitur aplikasi berbasis web secara otomatis langsung ter-update apabila pengguna kembali mengakses website atau aplikasi tersebut. Yang perlu dilakukan oleh pengguna hanyalah melakukan update browser apabila memang tersedia fitur-fitur terbaru dari browser yang sering digunakan.

Baca Juga  Biaya Pembuatan Website & Rincian Harganya

Aplikasi web lebih mudah dipromosikan ketimbang native apps

Memang, baik Google Play maupun Apple App Store menawarkan fitur mesin pencari dan penyortiran yang dapat membantu pengguna mencari aplikasi yang diinginkan. Biasanya pengguna akan mengunduh dan menggunakan aplikasi yang dicarinya khususnya apabila aplikasi tersebut memiliki peringkat yang baik. Sebuah aplikasi yang memiliki 4 dari 5 bintang lebih mungkin akan digunakan ketimbang sebuah aplikasi yang hanya memiliki 1 dari 5 bintang. Jika aplikasi tersebut memiliki peringkat buruk, maka aplikasi tersebut akan tenggelam dalam mesin pencarian dan tidak dipedulikan oleh pengguna.

Namun untuk mendapatkan peringkat baik, pengembang harus memberikan pelayanan customer support yang baik dan memastikan bahwa aplikasi yang digunakan bebas dari kesalahan pemrograman. Jika pengguna puas terhadap aplikasi tersebut, mungkin pengguna akan berbaik hati memberikan rating baik untuk aplikasi tersebut. Selain pengembang tidak memiliki kuasa untuk mempengaruhi mesin pencari masing-masing app store, dibutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan rating dari pengguna.

Sebaliknya tidak demikian apabila pengembang menawarkan aplikasi berbasis webnya melalui website yang telah dioptimisasikan melalui SEO. Hanya dengan mencari aplikasi berdasar kata kunci tertentu, pengguna bisa dengan mudah mendapatkan aplikasi yang diinginkannya. Ada dua hal disini yang perlu dipertimbangkan. Apakah aplikasi mudah dicari pengguna, itu bergantung pada keahlian Search Engine Optimization. Apakah aplikasi akan digunakan pengguna, itu bergantung pada fitur-fitur dan manfaat terkait yang ditawarkan, apakah pengembang menyediakan demonstrasi produk aplikasi, dan seberapa kompetitif harga aplikasi tersebut. Memang terdengar tidak mudah, namun pengembang dapat melakukan apa yang tidak bisa dilakukannya melalui Google Store atau Apple Store.

Aplikasi web tetap bisa digunakan secara offline

Sebelumnya, kapasitas penyimpanan yang ditawarkan mobile web browser sangat terbatas dan karenanya hanya bisa digunakan untuk menyimpan informasi password dan sebagainya (teknologi cookie). Dengan adanya keterbatasan ini, semakin banyak aplikasi yang dikembangkan untuk sistem operasi Android dan iOS.

Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi mobile web browser, berkembang pula kapasitas penyimpanan pada mobile web browser. LocalStorage, salah satu fitur HTML5, dapat digunakan untuk penyimpanan data besar untuk sebuah aplikasi dalam sebuah browser . Fitur ini memungkinkan aplikasi berbasis web yang telah digunakan sebelumnya masih bisa digunakan meski perangkat tidak terkoneksi dengan Internet. Data pengguna pun bisa disimpan pada browser perangkat meski perangkat tidak terkoneksi dengan Internet. Data tersebut bisa disinkronisasikan dengan aplikasi web apabila perangkat pengguna terkoneksi dengan Internet. Tentunya fitur ini hanya tersedia apabila pengembang aplikasi (atau website) memang menambahkan fitur tersebut pada aplikasinya.

Baca Juga  Apa SSL Penting Untuk Website?

Aplikasi web bisa tampil baik melalui perangkat mobile

Tidak seperti website atau aplikasi web tradisional, website atau aplikasi web moderen dikembangkan dengan konsep Responsive Web Design sehingga website atau aplikasi web tersebut dapat tampil secara baik pada perambah mobile . Sebelum diciptakannya konsep RWD, tampilan website atau aplikasi hanya tampil baik pada desktop, tidak pada perangkat mobile. Tampilan mobile muncul sama persis sebagaimana yang ditampilkan di perambah desktop. Bedanya, skala ukurannya menjadi sangat kecil. Font lebih kecil, tombol lebih kecil dan sulit dinavigasikan.

Kesimpulan

Meski teknologi mobile web browser semakin berkembang, sayangnya, masih banyak orang yang terjebak dengan anggapan bahwa aplikasi berbasis Android atau iOS lebih unggul dibandingkan aplikasi berbasis web. Sepertinya dibutuhkan waktu agar mereka yang ingin mengembangkan aplikasi tidak tergesa-gesa mengambil keputusan. Pertimbangan bisa dibuat berdasarkan kebutuhan dan tujuan mengapa aplikasi tersebut dibutuhkan, siapa yang menggunakan aplikasi tersebut dan bagaimana pengguna menggunakannya, dan yang terpenting anggaran yang tersedia. Apabila website profil perusahaan atau aplikasi web untuk produktivitas (sebagian) yang dibutuhkan, maka RWD mobile mungkin lebih cost-effective. Sebaliknya, apabila aplikasi game yang ingin dikembangkan, native apps bisa menjadi pertimbangan.

Untuk tambahan informasi mengenai perbandingan antara aplikasi web dan native apps, lihat: http://mobiledevices.about.com/od/additionalresources/a/Native-Apps-Vs-Web-Apps-Which-Is-The-Better-Choice.htm.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *